main-logo
header-image-18844
author-avatar-18844

Ditinjau oleh

Mardiana Hayati Solehah, M. Psi, Psikolog, Psikolog Klinis

Diterbitkan 30 Mei 2022

share-icon

358


“Duh, nakal banget sih kamu”





“Jadi anak kok suka bohong!”





“Kamu yang paling hitam di antara teman-teman sekelas.”





Pernahkah Bunda mengatakan hal-hal serupa yang memiliki arti negatif pada anak? Kalimat-kalimat serupa di atas merupakan labeling yang sering ditujukan pada anak tanpa disadari.





Meski terkesan wajar atau hanya dimaksudkan sebagai candaan, ternyata labeling pada anak dapat tertanam dan berpengaruh pada psikologis anak. Lalu apa saja bahaya labeling pada anak? Yuk simak ulasannya di bawah ini!





Bahaya Labeling pada Anak









Labeling mempengaruhi cara pandang anak atas dirinya





Saat orang tua, guru, atau orang-orang di sekitar anak memberi label pada anak, anak cenderung mempercayai bahwa ia memang memiliki hal-hal yang disebutkan orang dewasa atas dirinya. Label ini dapat berpengaruh pada cara pandang anak atas dirinya.





Label yang diberikan cenderung menjadi identitas diri anak dan dibawa terus kemanapun. Anak menjadi percaya dan merasa bahwa dirinya hitam, nakal, atau tukang bohong seperti yang disebutkan orang-orang di sekitarnya atas dirinya.





Kondisi ini dapat mempengaruhi perilaku anak sehingga menjadi seperti label yang melekat padanya, seperti sengaja tidak mau mendengarkan orangtua karena menganggap dirinya nakal. 





Labeling dapat mempengaruhi cara anak dipandang dan diperlakukan sekitar





Saat anak mendapatkan labeling dari guru, orang tua, atau orang dewasa di sekitar, anak cenderung mendapatkan perlakuan yang berbeda sesuai dengan labeling atas dirinya. Saat anak di label “pembuat onar,” maka tidak heran perlakuan dari lingkungan atas dirinya juga akan berubah.





Orang dewasa sekitarnya yang mengetahui label tersebut akan cenderung memperlakukannya dengan lebih hati-hati dan berbeda dibandingkan anak lain. 





Labeling membuat anak membuat limit atas kemampuan dirinya





Bahaya lain yang bisa muncul adalah anak menjadi membatasi diri sesuai dengan label mereka. Saat anak diberi label “penakut,” anak cenderung menjadi ragu-ragu akan kemampuan dirinya untuk mencoba hal-hal baru maupun berbicara di depan umum. Meskipun sebenarnya anak memiliki rasa berani dalam dirinya, namun label tersebut membuat anak tidak yakin akan kemampuan yang ia miliki.





● Hati-hati dengan label positif





Labeling tidak selalu bernada negatif. Labeling juga bisa dalam bentuk positif. Walaupun begitu, tidak semua hal yang positif selalu baik. Labeling positif juga dapat menahan anak dalam perkembangan dirinya.





Ketika anak lebih menonjol dalam bidang olahraga di usia dini, orang tua cenderung memuji anak dengan kalimat “pintar sekali usia dini sudah lentur,” “jago banget dalam bidang olahraga. Pasti besarnya jadi atlet.” Meski label yang diberikan sangatlah positif, kata-kata ini ternyata dalam menahan kreativitas anak dalam mencoba hal baru.





Anak menjadi sangat percaya bahwa identitasnya adalah sang jagonya olahraga. Anak menjadi ragu dan berasumsi bahwa ia hanya hebat dalam bidang olahraga dan tidak akan bisa lebih hebat jika melakukan bidang lain. 





Anak yang kerap dihujani dengan label positif, seperti "anak baik, penurut, paling pintar", cenderung sulit untuk menerima kelemahan-kelemahan yang ia punya. Mereka pun sangat sulit untuk menerima kesalahan, karena menganggap salah dan lemah bukanlah bagian dari label yang mereka yakini selama ini. Kondisi ini bisa menyebabkan anak stres dan memicu munculnya masalah emosi bila dibiarkan. 





● Anak jadi lebih sulit diatur dan diubah dengan labeling yang ada





Ketika anak mendapatkan labeling negatif, anak menjadi sulit untuk diubah perilaku dan karakternya. Anak merasa dirinya sesuai dengan label yang diberikan padanya. Semakin lama dan semakin sering anak mendapatkan label tersebut, besar kemungkinan anak akan semakin sulit untuk diatur perilaku dan karakternya.





Itu dia beberapa bahaya labeling pada anak yang perlu Bunda ketahui. Saat berkomunikasi dengan anak, sebaiknya lebih berhati-hati jangan sampai melabel anak dan menyebabkan anak membatasi dirinya. Bila anak melakukan kekeliruan, berilah kritik dengan menyebutkan perilaku secara konkret.





Contohnya sampaikan "mama kecewa karena kamu tidak mengerjakan PR", daripada mengatakan "kamu anak malas". Demikian pula bila memuji. Saat anak mengetahui dengan jelas perilaku apa yang diharapkan serta tidak diharapkan, maka ia pun bisa mengembangkan diri menjadi lebih baik.





Sumber:





University of Nevada, Reno. 2019. Avoid labeling your child





The Pragmatic Parent. Stop Labeling Kids: Why It’s Important to Name the Behavior Instead





Sleeping should be easy. 2022. 6 Reasons to stop labeling kids


Punya pertanyaan lain?

Tanyakan kepada dokter di aplikasi! Gratis!

Unduh aplikasi

Punya pertanyaan lain?

Tanyakan kepada dokter di aplikasi! Gratis!

Unduh aplikasi
footer-main-logo
appstore-logogoogleplay-logo
appstore-logogoogleplay-logo

Layanan Pengaduan Konsumen
PT Asa Bestari Citta
feedback@diarybunda.co.id

Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen Dan Tertib Niaga
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
Whatsapp Ditjen PKTN: 0853-1111-1010