main-logo

Bagaimana Agar Anak Menjadi Pribadi yang Tangguh

header-image-11512

Diterbitkan 10 Jun 2021

share-icon

1111


Sebagai orang tua, kita pasti menginginkan agar anak kita dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.





Tugas kita, sebagai orang tua, adalah bagaimana membantu mereka mempersiapkan diri untuk tidak mudah menyerah dan mau segera bangkit dari kegagalan atau tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.





Dalam dunia psikologi, istilah resiliensi digunakan untuk menyatakan kemampuan individu pulih dari kesulitan atau tantangan yang dihadapi.





Individu dengan resiliensi yang baik tidak hanya sanggup untuk bounce back atau bangkit dan melompat kembali dari kegagalan, namun bersedia untuk melakukan usaha yang lebih dari yang sebelumnya mereka lakukan.





Nah, apa ya yang bisa kita lakukan dan katakan kepada anak kita untuk membantu mereka mengembangkan resiliensi diri?





Memberi Pujian dengan Efektif





anak tangguh




Cara kita memuji sangat berpengaruh pada konsep diri dan pola pikir anak. Pujilah anak dengan berfokus atas usaha atau kerja keras yang telah mereka lakukan.





Misalnya saja ketika anak berhasil meraih nilai baik di sekolah, alih-alih memuji bakat atau kemampuannya, kita dapat mengatakan “ Selamat ya kak, ini adalah hasil kerja keras Kakak ”, dan tidak semata-mata berkata “ Wah, kakak pintar ya ”.





Dengan memberikan penekanan pada usaha, kita mengajarkan pada anak bahwa hasil yang ia peroleh adalah buah dari usahanya belajar, bukan semata-mata bakat atau kemampuannya.





Dan bahwa potensi yang ia miliki masih harus dikembangkan (melalui usaha dan belajar) sehingga akhirnya dapat memperoleh hasil yang baik.





Berbicara mengenai Potensi Otak Manusia









Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi bahwa kita dapat menstimulasi otak kita. Dengan berbagai usaha dan kerja keras seperti belajar atau berlatih dengan intensif, bagian-bagian otak tertentu akan semakin bekerja dengan optimal.





Sebaliknya, jika tidak pernah berlatih atau belajar, sehebat apa pun potensinya tidak akan terasah, dan tidak bisa berharap untuk mendapat hasil optimal.





Menjadikan Kesalahan atau Kegagalan Sebagai Kesempatan untuk Belajar









Orang tua dapat menjadi model bagi anak dalam mencontohkan hal ini. Kita bisa bercerita mengenai proses usaha dan kegagalan yang mungkin pernah kita alami.





Dengan demikian, anak belajar bahwa membuat kesalahan adalah hal yang lazim terjadi dalam proses belajar.





Ingatkan anak bahwa kita berkembang melalui proses usaha dan belajar terus-menerus, dan tidak ada proses belajar yang sempurna atau tanpa kesalahan.





Ditulis oleh: Rumah Dandelion









Sumber:





Schrode, Hans S, et al. Neural Evidence for Enhanced Attention to Mistakes Among School-aged Children with a Growth Mindset. Developmental Cognitive Neuroscience. Volume 24, April 2017, Pages 42-50.





Mindset Works. How Parents Can Instill
a Growth Mindset at Home.





Psych Central. 2016. What is Resilience?





Psychology Today. 2016. Mindsets.










Punya pertanyaan lain?

Tanyakan kepada dokter di aplikasi! Gratis!

Unduh aplikasi

Punya pertanyaan lain?

Tanyakan kepada dokter di aplikasi! Gratis!

Unduh aplikasi
footer-main-logo
appstore-logogoogleplay-logo
appstore-logogoogleplay-logo

Layanan Pengaduan Konsumen
PT Asa Bestari Citta
feedback@diarybunda.co.id

Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen Dan Tertib Niaga
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
Whatsapp Ditjen PKTN: 0853-1111-1010