main-logo

Kehamilan Ektopik: Penyebab, Gejala dan Cara Mencegahnya

header-image-3646
author-avatar-3646

Ditinjau oleh

dr. Linda Lestari, Sp.OG, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Diterbitkan 28 Mar 2024

share-icon

168


Apa itu kehamilan ektopik, dan apakah ada cara untuk mencegahnya? Berikut penjelasan lengkap tentang komplikasi kehamilan ini. 





Apa Itu Kehamilan Ektopik?





Setiap bulan, satu dari indung telur mengeluarkan satu telur ke tuba falopi, yakni tuba yang menghubungkan indung telur dengan rahim. Jika tidak hamil, maka dinding rahim akan luruh dan menstruasi terjadi. Namun jika telur tersebut dibuahi sperma, maka akan menuju rahim, di mana dia akan menempel pada dinding rahim dan lalu berkembang menjadi sebuah janin. 





Apa hubungannya dengan kehamilan ektopik? Dalam kehamilan ektopik (yang juga dikenal dengan kehamilan tuba), sebuah telur yang sudah dibuahi menempel di luar uterus, sehingga tidak berkembang dengan normal. Lebih dari 90% kehamilan ektopik terjadi di salah satu tuba, meski juga bisa terjadi di serviks, indung telur, atau perut.





Sayangnya, tidak mungkin memindahkan kehamilan ektopik ke rahim. Kehamilan ini bisa terus berkembang di dalam tuba, tapi kemudian bisa menyebabkan tuba pecah atau rusak parah, yang terkadang mengakibatkan perdarahan internal. Kondisi ini membahayakan nyawa yang membutuhkan tindakan medis secepatnya. 





Apa yang Menyebabkan Kehamilan Ektopik?





Sulit mencari satu alasan yang pasti mengapa Bunda mengalami kehamilan ektopik. Salah satu penyebabnya adalah tuba falopi yang rusak, yang menyebabkan telur yang dibuahi sulit mencapai rahim. Hormon yang tidak seimbang atau perkembangan abnormal pada telur yang dibuahi juga bisa menjadi pemicunya. 





Berikut beberapa hal yang meningkatkan risiko mengalami kehamilan ektopik: 





  • Sebelumnya mengalami kehamilan ektopik
  • Inflamasi atau infeksi. Infeksi menular seksual seperti gonore atau klamidia bisa menyebabkan inflamasi pada tuba dan organ terdekat lainnya
  • Terapi kesuburan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang menjalani in vitro fertilization (IVF) atau terapi serupa meningkatkan risiko kehamilan ektopik
  • Pernah menjalani operasi di area tuba
  • Pernah menjalani operasi panggul atau perut
  • Mengalami infeksi radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID)
  • Pilihan alat kontrasepsi tertentu, seperti intrauterine device (IUD) dan tubektomi ( tubal ligation )
  • Merokok. Semakin banyak merokok, semakin meningkat risiko kehamilan ektopik
  • Endometriosis
  • Hamil di usia di atas 35 tahun




Apa Gejala Komplikasi Kehamilan Ini?





Pada awalnya, ciri-ciri kehamilan ektopik mirip dengan gejala kehamilan biasa, seperti menstruasi terlambat, payudara keras, atau perut sakit. Bahkan saat menggunakan test pack , hasilnya positif. 





Akan tetapi, kehamilan ektopik tidak bisa berlanjut dengan normal. Saat telur yang dibuahi berkembang di tempat yang tepat, maka gejala lain akan muncul. Di antaranya: 





  • Nyeri pada perut dan panggul
  • Perdarahan vagina
  • Pusing atau pingsan
  • Kram di salah satu bagian panggul
  • Rasa tidak nyaman saat buang air besar dan kecil 




Jika Bunda mengalami gejala-gejala di atas, segera hubungi dokter. 





Bagaimana Dokter Mendeteksi Kehamilan Ini?





Saat dokter menduga Bunda mungkin mengalami kehamilan ektopik, dia akan: 





  • Memeriksa panggul
  • Melakukan tes transvaginal ultrasound untuk mengetahui perkembangan kehamilan.
  • Melakukan tes darah untuk mengecek sebuah hormon kehamilan, yakni human chorionic gonadotropin (hCG). Jika level hormon ini mulai menurun atau tetap sama selama beberapa hari dan kantung kehamilan tidak terlihat, maka ini kemungkinan sebuah kehamilan ektopik.




Ada saatnya semua tes di atas tidak sempat dilakukan oleh dokter, terutama jika Bunda mengalami gejala-gejala yang parah, seperti perdarahan dan sakit luar biasa. Dan karena tuba falopi bisa pecah, maka dokter bisa jadi akan melakukan operasi emergensi sebagai tindakan pencegahan. 





Apa Pilihan Penanganan Kehamilan Ektopik?





Oleh karena kehamilan ektopik tidak bisa dipindahkan ke rahim, maka hanya ada dua cara untuk menangani komplikasi ini. Yakni: 





Metode Obat





Diperkirakan, hingga 90% kehamilan ektopik bisa ditangani dengan obat-obatan jika dideteksi lebih dini. Dokter mungkin akan memilih metode ini setelah memastikan tidak akan ada komplikasi serius.





Dalam hal ini, dokter akan memberi resep obat, contohnya methotrexate yang diberikan dalam suntikan. Obat ini menghentikan sel-sel bertumbuh, sehingga kehamilan akan berakhir. 





Saat menjalani metode ini, Bunda harus melakukan tes darah secara teratur untuk memastikan obat ini efektif. Jika efektif, tubuh kemudian akan menyerap kehamilan dalam waktu 4-6 minggu. Tanda-tandanya mirip seperti keguguran, yakni kram, perdarahan dan jaringan luruh. 





Seperti obat pada umumnya, mengonsumsi methotrexate memiliki efek samping, di antaranya: 





  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Pusing




Selama menjalani metode penanganan ini, Bunda disarankan untuk menghindari:





  • Olahraga berat
  • Hubungan seks
  • Alkohol
  • Vitamin atau makanan yang mengandung asam folat, seperti sereal, roti, pasta, kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau gelap, jus jeruk, dan polong
  • Obat pengurang rasa sakit, seperti ibuprofen
  • Makanan yang memproduksi gas yang menyebabkan nyeri dan rasa tidak nyaman
  • Terpapar sinar matahari terlalu lama




Adalah sangat penting untuk menjalani metode pengobatan ini hingga selesai. Pasalnya, risiko tuba falopi robek tidak akan hilang hingga pengobatan berakhir. Namun, biasanya setelah metode pengobatan ini, operasi tidak dibutuhkan. Meski begitu, Bunda tidak bisa langsung hamil selama beberapa bulan setelah mengonsumsi obat ini. 





Operasi





Jika kehamilan ektopik merobek sebuah tuba, maka operasi butuh segera dilakukan. Atau terkadang operasi tetap dibutuhkan bahkan jika tuba falopi tidak robek. Operasi ini akan memindahkan ektopik dari tuba, atau seluruh tuba diangkat beserta kehamilan. Operasi ini biasanya dilakukan dengan laparoskopi.





Prosedur ini menggunakan sebuah kamera ringan dan ramping yang akan dimasukkan melalui sebuah potongan kecil di perut. Saat operasi berlangsung, pasien akan dibius total. 





Untuk efek samping, dokter akan menjelaskan bahwa ada sejumlah efek samping yang mungkin akan rasakan setelah operasi ini, termasuk rasa sakit, lelah, perdarahan dan infeksi.





Entah Bunda menjalani metode pengobatan atau operasi, yang pasti akan merasa lelah selama beberapa minggu. Dan mungkin akan merasakan sakit atau tidak nyaman di bagian perut. Jika rasa sakit terus berlanjut, segera konsultasikan dengan dokter. 





Bagaimana Prospek Hamil Lagi Setelah Kehamilan Ektopik?





Pernah mengalami kehamilan ektopik akan meningkatkan risiko mengalaminya lagi (hingga 10%). Namun bukan berarti Bunda tidak bisa hamil dengan normal. Bahkan jika Bunda kehilangan satu tuba falopi, tuba lain akan mengambil alih. 





Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sekitar dua-pertiga perempuan yang mengalami kehamilan ini akan bisa mengandung lagi dengan normal dalam waktu 18 bulan. Sejumlah ahli menyarankan untuk memberikan waktu tubuh pulih kembali setidaknya selama 3 bulan, sebelum memulai program kehamilan lagi. 





Jika Bunda mencoba hamil lagi, pastikan berkonsultasi dan menjalani check up dan tes yang dianjurkan oleh dokter untuk memastikan kehamilan aman. Dan meski kehamilan ektopik terjadi di awal masa kehamilan, tapi bagi sebagian perempuan mirip seperti mengalami keguguran. Apalagi jika ini adalah kehamilan yang sudah direncanakan.





Untuk itu, sangat wajar jika Bunda merasa sedih dan kehilangan. Pemulihan emosi membutuhkan waktu, jadi mintalah pertolongan pada pasangan, keluarga atau teman dekat.





Atau mintalah dokter untuk merekomendasikan konselor yang bisa membantumu melalui waktu yang sulit ini. Jangan lupa merawat diri, konsumsi makanan sehat, dan berikan waktu untuk diri sendiri untuk berduka. 





Bagaimana Mencegah Komplikasi Kehamilan Ini?





Bunda tidak selalu bisa mencegah kehamilan ektopik, tapi bisa mengurangi risiko mengalaminya. Di antaranya: 





  • Berhubungan seksual hanya dengan pasangan yang sah
  • Obati keputihan
  • Hindari rokok. Jika Bunda adalah seorang perokok, segeralah berhenti sebelum mencoba hamil
  • Hadiri semua jadwal konsultasi dokter, termasuk tes ginekologi regular dan tes STD.




Sumber: 





  • Ectopic. What is an ectopic pregnancy?
  • Medline Plus. Ectopic Pregnancy.
  • ACOG, 2018. Ectopic Pregnancy.
  • Healthline, 2018. Ectopic Pregnancy.
  • WebMD, 2020. Ectopic (Extrauterine) Pregnancy
  • NHS, 2018. Ectopic pregnancy.
  • Mayo Clinic, 2020. Ectopic pregnancy.
  • What to Expect, 2019. What Happens If You Have an Ectopic Pregnancy.

Punya pertanyaan lain?

Tanyakan kepada dokter di aplikasi! Gratis!

Unduh aplikasi

Punya pertanyaan lain?

Tanyakan kepada dokter di aplikasi! Gratis!

Unduh aplikasi
footer-main-logo
appstore-logogoogleplay-logo
appstore-logogoogleplay-logo

Layanan Pengaduan Konsumen
PT Asa Bestari Citta
feedback@diarybunda.co.id

Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen Dan Tertib Niaga
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
Whatsapp Ditjen PKTN: 0853-1111-1010