Penyebab dan Efek Bayi Lahir di Vakum


Ditinjau oleh
dr. Andri Welly, Sp. OG, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Diterbitkan 11 Apr 2022
290
Saat Bunda melakukan persalinan pervaginam, dokter mungkin harus melakukan vakum untuk menarik keluar bayi dari jalan lahir. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses persalinan karena sebab satu dan lain hal.
Vakum adalah alat medis berupa berbentuk cup atau cangkir bulat, berbahan dasar plastik yang lembut dengan pegangan yang nantinya pegangan tersebut disambungkan ke pompa vakum. Alat ini nantinya akan ditempelkan pada puncak kepala janin pas di garis tengah kepala bayi (sutura sagitalis) untuk membantu bayi keluar dari jalan lahir. Proses ini biasanya dilakukan bersamaan dengan kontraksi saat ibu mengejan.
Ada beberapa alasan atau penyebab bayi lahir di vakum. Kondisi ini memang sangat normal terjadi pada wanita yang menjalani lahiran pervaginam. Namun, tidak semua akan mengalaminya. Beberapa penyebab bayi lahir di vakum, antara lain:
Jika rumah sakit dan dokter kandungan Bunda mengonfirmasi bahwa persalinan perlu dibantu dengan prosedur vakum, ada beberapa hal yang perlu dipastikan dokter sebelum menjalani prosedur ini:
Vakum tidak boleh diletakkan di area wajah atau alis bayi. Posisi ideal untuk cangkir cup vakum adalah janin presentasi belakang kepal, dengan cup vakum tepat di atas garis tengah kepala bayi. Prosedur vakum cenderung tidak berhasil jika bayi menghadap menengadah ke atas saat Bunda berbaring telentang.
Risiko ekstraksi vakum meningkat pada bayi belum cukup bulan atau bayi dengan BBL kurang dr 2500 gram. Oleh karena itu, sebaiknya tidak dilakukan sebelum usia kehamilan 37 minggu atau kurang dari 2500 gram. Dibandingkan vakum, prosedur forceps dapat digunakan untuk membantu persalinan bayi prematur.
Jika posisi kepala janin masih berada di atas pintu panggul, atau bahkan belum masuk ke panggul, maka proses vakum tidak dapat dilakukan. Idealnya vakum dilakukan pada saat kepala janin sudah berada pada station +3.
Dokter harus yakin bahwa janin dapat melewati panggul, dan dapat lahir dengan bantuan prosedur vakum. Ada kalanya bayi terlalu besar atau jalan lahir yang terlalu kecil untuk persalinan yang sukses. Kedua hal itu akan membuat proses vakum menjadi gagal. Maka dari itu, sebelum melakukan vakum, dokter akan melakukan pemeriksaan dalam (VT), sehingga dokter sudah mengetahui apakah kedua hal tersebut tidak bermasalah sehingga proses vakum bisa berhasil. Jika hal ini tidak dipastikan sebelumnya, ekstraksi vakum tak hanya akan gagal, tetapi juga dapat mengakibatkan komplikasi serius.
Jika dokter mencoba prosedur vakum saat pembukaan bunda belum lengkap, kemungkinan besar dokter akan memotong atau merobek serviks Bunda. Cedera serviks memerlukan operasi bedah, risiko perdarahan yang hebat dan dapat menyebabkan masalah pada kehamilan berikutnya.
Untuk bisa menempelkan cangkir vakum ke kepala bayi, ketuban harus sudah pecah. Hal ini adalah salah satu faktor utama yang membuat dokter berani melakukan vakum. Jika belum pecah, dokter mungkin akan memecahkannya terlebih dahulu, tetapi tergantung keadaan bayi pada saat itu.
Prosedur pembiusan sangat dibutuhkan untuk membantu mengurangi rasa sakit akibat proses pelebaran jalan lahir (pengguntingan/ episiotomi), yang seringkali dilakukan bersamaan prosedur vakum. Tujuannya dilakukan episiotomi adalah untuk melebarkan jalan lahir Bunda.
Kandung kemih yang penuh akan mempersulit janin turun sehingga kepala janin akan tertahan pada daerah atas panggul.
Jika prosedur vakum gagal, tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kondisi janin dan bunda. Maka oleh sebab itu, harus adanya persiapan kamar operasi jika seandainya prosedur vakum tersebut tidak berhasil.
Bunda mungkin bertanya-tanya apa bahaya bayi lahir di vakum? Sebenarnya ada beberapa risiko yang bisa terjadi pada Bunda maupun bayi. Namun, hal ini tidak berefek jangka panjang.
Risiko yang mungkin terjadi pada Bunda:
Kemungkinan risiko untuk bayi meliputi:
Risiko-risiko di atas sebagian besar tidak menimbulkan komplikasi serius bagi perkembangan bayi. Pendarahan di kulit kepala atau di bawah penutup tengkorak bisa hilang dalam beberapa waktu dan tidak perlu dikhawatirkan. Jadi, prosedur vakum ini aman dijalani selama kondisi memungkinkan. Jika tidak, Bunda mungkin akan melewati proses forceps atau operasi caesar.
BACA: Kenali 7 Metode Melahirkan dan Tips Memilihnya
Sumber:
Williams Obstetric 25th ed.
ALARM Course. Vacuum extraction.
Mayo Clinic. 2020. Vacuum Extraction
Healthline. 2016. Who Needs a Vacuum-Assisted Delivery?
Artikel Unggulan

Panduan agar Tetap Sehat Saat Hamil Muda
Saat Bunda positif hamil, apalagi bila ini adalah kehamilan yang pertama, akan banyak sekali hal yang Bunda perhatikan agar bisa menjalani kehamilan ini dengan ...

Ini Mengapa Bunda Perlu Konsumsi Suplemen Prenatal
Tumbuh kembang janin sangat ditentukan oleh asupan ibu selama mengandung. Oleh karena itu penting bagi ibu untuk memenuhi semua asupan nutrisi penting selama ha...

Ini Penyebab Libido Turun saat Hamil
Masalah yang satu ini kadang cukup membuat Bunda merasa gelisah saat dalam masa kehamilan: libido turun saat hamil. Padahal di berbagai tayangan, film, atau art...
Artikel Terkait

Layanan Pengaduan Konsumen
PT Asa Bestari Citta
feedback@diarybunda.co.id
Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen Dan Tertib Niaga
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
Whatsapp Ditjen PKTN: 0853-1111-1010