Disentri pada Bayi, Ketahui Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya


Ditinjau oleh
dr. Kevin Adrian Djantin, Project and Collaboration Medical Editor Alodokter
Diterbitkan 16 Feb 2025
589
Disentri pada bayi merupakan salah satu penyakit yang tidak boleh disepelekan ya, Bun. Ini karena disentri bisa menyebabkan bayi mengalami dehidrasi karena diare serta BAB yang berdarah. Jika tidak segera ditangani, disentri dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya bagi Si Kecil, lho. Nah, untuk melindungi Si Kecil dari disentri, Bunda perlu mengenali penyebab, gejala, dan cara mencegahnya.
Disentri adalah infeksi pada usus yang disebabkan oleh bakteri atau parasit. Nah, penyakit ini sangat mudah menular dan bisa menyerang siapa saja, termasuk bayi. Hal ini karena sistem kekebalan tubuh bayi belum berkembang dengan sempurna, Bun.
Disentri pada bayi merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai karena bisa berisiko membuat bayi mengalami komplikasi yang berbahaya, yaitu dehidrasi berat dan perdarahan usus.
Penyebab disentri pada bayi adalah infeksi bakteri, seperti Shigella dan Campylobacter jejuni, atau parasit Entamoeba histolytica , Bun. Nah, penyakit ini dapat menyebar melalui makanan, air, atau benda yang terkontaminasi kuman tersebut.
Setelah masuk melalui mulut, bakteri atau parasit tersebut akan berkembang biak dan menyerang jaringan usus bayi yang akhirnya menimbulkan gejala disentri pada bayi, seperti diare berdarah dan demam.
Nah, ada beberapa faktor yang bisa membuat bayi berisiko terpapar bakteri atau parasit penyebab disentri, antara lain:
Bunda, gejala disentri pada bayi ternyata mirip dengan anak-anak dan orang dewasa, lho. Nah, gejala yang muncul dapat bervariasi tergantung dari penyebab dan tingkat keparahan infeksi. Secara umum, berikut ini adalah beberapa gejala disenteri pada bayi yang penting untuk Bunda perhatikan:
Gejala-gejala ini bisa muncul dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu setelah bayi terpapar kuman penyebab disentri. Namun, umumnya disentri akibat infeksi bakteri bisa muncul lebih cepat, yakni sekitar 1–3 hari setelah bayi terinfeksi kuman.
Sementara pada disentri yang disebabkan oleh infeksi parasit, gejalanya bisa saja baru muncul setelah 2–4 minggu pasca masuknya parasit ke dalam usus bayi.
Setelah mengetahui dan mengenal berbagai gejala disentri pada bayi, Bunda bisa segera memeriksakan Si Kecil ke dokter bila ia mengalami salah satu gejala tersebut, ya. Hal ini bertujuan agar ia bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah terjadinya komplikasi yang berbahaya.
Kabar baiknya, disentri pada bayi bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7 hari, lho. Meski begitu, Bunda tetap tidak boleh menganggap remeh penyakit ini, ya. Soalnya, disentri dapat membahayakan kesehatan bayi.
Disentri yang tidak diobati dengan tepat dapat menyebabkan Si Kecil mengalami dehidrasi lho, Bun. Nah, ketika anak mengalami disentri, cairan dan elektrolit dalam tubuh akan terkuras akibat muntah, keringat, serta urine dan feses.
Maka dari itu, Bunda perlu memastikan Si Kecil mendapatkan asupan cairan yang cukup setiap harinya ya, Bun. Dengan begitu, cairan yang keluar dari tubuh akibat diare dan muntah dapat terpenuhi dan Si Kecil bisa terhindar dari dehidrasi.
Bila Si Kecil juga mengalami demam dan rasa nyeri, Bunda bisa memberikannya obat demam dan nyeri, seperti paracetamol. Namun, sebelum memberikan obat ini pada Si Kecil, Bunda perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, ya.
Namun, jika disentri pada bayi tidak sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari, dokter mungkin akan memberikan antibiotik pada Si Kecil, seperti metronidazole, untuk membunuh bakteri atau parasit penyebab infeksi. Obat ini hanya boleh digunakan sesuai resep dan anjuran dokter, ya.
Sebenarnya, mencegah disentri pada bayi bisa dilakukan dengan mudah, lho. Bunda, Ayah, dan orang-orang di sekitar Si Kecil hanya perlu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, yaitu dengan menjaga kebersihan di lingkungan sekitar rumah.
Selain itu, beberapa cara yang bisa Bunda terapkan di rumah untuk mencegah terjadinya disentri pada bayi, di antaranya:
Namun, bila Si Kecil tetap menunjukkan gejala disentri, segera bawa ia ke dokter untuk mendapatkan penanganan ya, Bun. Soalnya, disentri pada bayi yang tidak ditangani dengan segera bisa berakibat fatal, apalagi bila bayi sudah mengalami dehidrasi.
Apabila masih memiliki pertanyaan seputar kesehatan Si Kecil, jangan ragu untuk hubungi dokter melalui chat online ya, Bun.
Sumber:
National Health Service UK (2024). Health A to Z. Dysentery.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Disentri.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Tinja Bayi: Normal atau Tidak? (Bagian 2).
Children’s Health. Pediatric gastrointestinal (GI) bleeding.
Cleveland Clinic (2022). Diseases & Conditions. Dysentery.
Seattle Children’s Hospital. Diarrhea (0-12 Months).
Health (2023). What Is Dysentery?
Healthline (2024). What Is Dysentery and How Is It Treated?
Verywell Health (2024). What Is Dysentery?
WebMD (2022). Dysentery.
Artikel Unggulan

Panduan agar Tetap Sehat Saat Hamil Muda
Saat Bunda positif hamil, apalagi bila ini adalah kehamilan yang pertama, akan banyak sekali hal yang Bunda perhatikan agar bisa menjalani kehamilan ini dengan ...

Ini Mengapa Bunda Perlu Konsumsi Suplemen Prenatal
Tumbuh kembang janin sangat ditentukan oleh asupan ibu selama mengandung. Oleh karena itu penting bagi ibu untuk memenuhi semua asupan nutrisi penting selama ha...

Ini Penyebab Libido Turun saat Hamil
Masalah yang satu ini kadang cukup membuat Bunda merasa gelisah saat dalam masa kehamilan: libido turun saat hamil. Padahal di berbagai tayangan, film, atau art...
Artikel Terkait

Layanan Pengaduan Konsumen
PT Asa Bestari Citta
feedback@diarybunda.co.id
Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen Dan Tertib Niaga
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
Whatsapp Ditjen PKTN: 0853-1111-1010